Anjing Bukan Manusia
Saya salah satu korban banjir kemarin. Rumah saya tidak kebanjiran, tapi ISP saya jadi mengalami banyak masalah dan para pelanggan terpaksa “puasa” internet. Kesal juga, karena sampai hari ini koneksi internet di rumah belum stabil juga, tapi nasib saya masih JAUH lebih baik dibanding para korban banjir yang kehilangan orang-orang terkasih, kehilangan rumah…
Untungnya, sekarang saya punya momongan
Cupcake sekarang sudah makin besar. Dan semenjak seminggu yang lalu, Cupcake punya teman main. Namanya C’est Moi. Chihuahua yang umurnya seminggu lebih tua dari Cupcake dan manja sekali! Saat saya mengapdet blog ini, C’est Moi ada di pangkuan saya. Tertidur…
Dua minggu yang lau Cupcake sempat demam gara-gara terlalu lelah bermain dengan pembantu saya. Rasanya sedih sekali, karena Cupcake jadi tidak mau makan dan suhu badannya tinggi sekali. Setelah dibawa ke dokter hewan, sorenya berangsur-angsur membaik dan saya pun bisa tersenyum lagi…
Saya jadi berpikir, apakah mungkin anak-anak anjing saya masih merindukan induk mereka karena menurut saya, saya sangat mencintai mereka dan saya meluangkan waktu sebanyak yang saya mampu untuk mereka?
Ah. Saya jadi teringat almarhumah ibu.
Bukan mengecilkan arti seorang induk binatang. Tetapi saya tidak dapat membayangkan jika saya dulu diasuh oleh seekor induk anjing. Mungkin saya akan jadi tidak merasa nyaman berpakaian. Seperti anak-anak anjing saya: Saya yakin mereka tidak merasa nyaman ketika saya mengenakan pakaian di tubuh mereka
Tapi mau bagaimana lagi, saya manusia dan menurut saya, mereka tampak lebih cantik jika berpakaian… Saya mungkin terlalu memanusiakan mereka. Saya bahkan membuatkan blog khusus untuk Cupcake
Anjing bukan manusia. Manusia bukan anjing.
Untung mereka tidak menuntut saya untuk memakai ekor ketika mereka saya paksa memakai rok, kemeja dan sweater…



