Definisikan “Lucu”!
Ingat “American Funniest Home Videos” yang ditayangkan oleh RCTI beberapa tahun yang lalu? Jujur saja, saya lebih sering tidak tertawa ketika menonton acara tersebut. Jangankan tertawa, tersenyum pun tidak. Bukan karena saya selalu sakit gigi, tapi karena saya memang merasa acara itu tidak lucu
Presenter acara tersebut (Bob Saget) menurut saya lebih “lucu” ketimbang acara yang dipandunya
Apa yang dianggap lucu oleh dunia barat, belum tentu lucu menurut kita. Tukul Arwana mungkin tidak akan ditertawai di belahan dunia sana, sekalipun Tukul suatu hari mampu melawak dalam bahasa Inggris.
Dua minggu yang lalu ketika saya window-shopping di sebuah mall, saya tertarik pada sebuah film DVD (bajakan, tentunya) yang berjudul “Looking for Comedy in The Muslim World”. Saya membelinya, tetapi baru tadi siang “ingat” untuk menontonnya. Dan ternyata film yang luar biasa
Saya (tetap) tidak tertawa ketika Albert Brooks berusaha membuat penonton India-nya tertawa. Tetapi banyak pelajaran yang saya dapat petik dari film yang dilarang beredar di Malaysia ini.
Albert Brooks adalah orang Yahudi yang diutus oleh Pemerintah Amerika ke India dan Pakistan. Tugasnya adalah mencari tahu apa yang membuat umat Muslim di dua negara tersebut tertawa, karena menurut Pemerintahnya, untuk mengerti seseorang kita harus tahu apa yang dapat membuat orang itu tertawa.
Singkat cerita, proyek tersebut gagal karena selama dalam kunjungannya ke India, Brooks dicurigai oleh Pemerintah India sebagai mata-mata Amerika (yang punya maksud buruk, tentunya). Dan tidak lama setelah kepulangannya ke Los Angeles, terjadi pertikaian sengit antara India dan Pakistan dan Brooks dituduh sebagai salah satu penyebabnya! Wah, padahal selama kunjungannya itu Brooks tidak sekalipun menyinggung masalah politik maupun agama… Dia hanya melawak 1-2 kali di tempat umum dan bertanya kepada semua orang yang ditemuinya di jalan, “Apa yang membuat anda tertawa?”
Jahatkah itu?
Jadi saya berkesimpulan bahwa untuk mengerti seseorang, kita harus mengerti apa yang dibencinya, apa sumber kekhawatirannya. Orang yang pandai dan bijaksana tidak akan berpikiran sempit dan memberi stigma kepada bangsa dan agama tertentu. Contoh ekstrim dari sikap “cupet” ini adalah, maaf, FPI dan para teroris. Seharusnya orang tidak perlu merasa terancam oleh gaya hidup dan kepercayaan orang lain. Seharusnya orang tidak perlu merasa bangga jika ditakuti. Seharusnya perbedaan itu dipandang “indah”
Sebagai penutup, inilah cuplikan dari film yang banyak membuat saya berpikir di Sabtu sunyi ini
Sayang film ini tidak dibuat di Indonesia. Mungkin Brooks takut “diganggu” FPI dan disantet Ki Gendeng Pamungkas




Saat masih di Jakarta saya pernah membaca soal film ini. Sebuah film satire agama yang sebenarnya tidak perlu dibaca dengan kepala panas. Setuju. Mestinya kita malah belajar dari film ini tentang diri kita. Atau kita marah karena dikritik? Dijelek-jelekkan. Come on. Anyway, it’s just a movie.
simpel-nya : jadilah warga dunia…bukan hanya jadi warga indonesia atau warga muslim…
Salam kenal,
Saya juga sudah menonton film ini, dan memang menarik. Saya setuju bahwa kita nggak seharusnya berpikiran sempit dengan memberi pandangan bahwa agama ini atau bangsa itu.