“Surga” Di Bumi
Kini ada pilihan lain selain Bogor jika ingin menikmati “surga” setelah mati. Telah dipasarkan San Diego Hills Memorial Park di Karawang, Jawa Barat. Penikmatnya memang bukan si mati tetapi keluarganya, karena “TPU Indah” tersebut dilengkapi dengan fasilitas restoran dan kolam renang. Cocok untuk kuburan keluarga karena meskipun dijual dengan harga Rp. 3,2 juta per petaknya, calon penghuni atau keluarganya harus membeli minimal 10 petak. Atau kalau semasa hidup calon penghuni suka berakhir pekan di Puncak, disediakan lokasi di atas bukit seharga Rp. 30 juta per m2.
Jadi betapapun jahatnya anda di dunia ini semasa hidup sehingga akhirat menutup pintu Surga, anda masih bisa menikmati surga di dunia. Tentunya asal anda bisa membeli surga di Karawang tersebut
Anda yang jahat dan miskin, tiada surga bagi anda baik di dunia maupun di akhirat
Oleh sebab itu, marilah kita berusaha untuk meminimalisir dosa supaya bisa masuk Surga, betapa pun miskinnya kita.
Membisniskan “orang mati” memang benar sangat menggairahkan.Keluarga orang yang meninggal kebanyakan tidak pernah menawar harga peti mati, ongkos rias mayat, perlengkapan si mati, seperti sarung tangan, kaus kaki, dan sebagainya. Ketika ibu saya meninggal tahun 2005, saya harus membayar Rp. 500 ribu untuk biaya memandikan mayat, rias, kaus kaki dan sekuntum bunga mawar merah jambu. Dan saya terlalu sedih dan panik untuk menawar. Menurut orang-orang yang saya kenal, Rp. 500 ribu itu termasuk murah jika dibandingkan harga untuk pelayanan sejenis di Jakarta. Kebetulan ibu saya meninggal di sebuah rumah sakit di luar DKI.
Belum lagi biaya sewa rumah duka, biaya sewa kursi, biaya “ambulans hitam”. Saya benar-benar “berbelanja” layaknya orang kaya ketika itu, yang tidak “sudi” menawar sama sekali. Dan saya tidak menyesal maupun bangga, karena semuanya untuk orang yang paling menyayangi saya di dunia ini, yaitu ibu saya.
Kawan saya di Manado beberapa hari yang lalu bercerita bahwa almarhum pamannya dikebumikan di dalam rumah. Rata-rata mereka memiliki tanah yang berlimpah dan membuat pemakaman keluarga bukanlah hal yang mahal dan rumit secara birokrasi. Seandainya tanah di Jakarta dan sekitarnya bukanlah barang yang mahal, kita patut “kasihan” kepada para pengembang “orang mati real estate”, karena mereka bisa kehilangan ke-kreatifan mereka menciptakan surga di bumi untuk keluarga para almarhum dan almarhumah yang terkasih…
Buat saya, yang terpenting ibu saya sekarang sudah berada di tempat yang lebih baik dan saya tidak perlu bertamasya ke makamnya. Toh ibu pun tidak bisa merasakan kolam renang di “tempat rekreasi” tersebut, seandainya saya mampu mengistirahatkannya di sana…




Semoga ibu diterima Allah.
Salam.
Gimana dong.
Hidup mahal, matipun mahal.
Kalo diambil positifnya, mungkin berawal supaya tidak merepotkan keluarga yang sedang berduka. Hanya saja kasihan bagi yang gak mampu, apalagi yang jutaan itu.
Btw, blog satunya itu persembunyian pribadi ya.