Burung Surga Opa Koes
Koes Hendratmo akan menikah lagi.
Adalah suatu hal yang wajar, mengingat beliau baru saja sudah bercerai dari Oma Herdawati.
Manusia perlu “cinta” dan tidak dapat hidup sendiri.
Adalah suatu hal yang wajar, karena meskipun sudah lumayan sepuh, Opa Koes masih penuh pesona, meskipun kini penuh “wiron” juga di wajah dan lehernya.
Opa Koes jauh lebih sedap dipandang mata dibanding Ian Kasela yang jauh lebih muda, misalnya.
Adalah suatu hal yang wajar, karena calon istri beliau, Mbak Aprilia yang “sehat subur” itu tidak buta.
Wanita suka keindahan. Wanita suka dimanja.
Adalah suatu hal yang wajar, jika Opa Koes lebih menyukai wanita yang lebih muda.
Setahu saya, wanita yang sudah berumur kurang “haus belaian sayang”.
Jadi: Cintakah? Nafsukah? Atau dua-duanya?
Mudah-mudahan, apa pun itu motivasinya, cinta tetap menjadi alasan bagi tiap orang yang membuang meninggalkan pasangan lamanya untuk pendamping yang baru.
Saya hanya merasa geli ketika sepasang calon pengantin ini diwawancara oleh sebuah infotaintment beberapa hari yang lalu. Opa Koes ternyata punya panggilan sayang untuk Mbak Aprilia, yaitu: “Burung Surgaku”.
Apakah berarti Oma Herdawati “Burung Neraka”-nya, sampai Opa Koes tega meninggalkannya untuk sebuah “surga” yang belum lama dikenalnya? Apakah dulu Herdawati pun sempat menjadi seekor burung di surga Opa Koes?
Kalau begitu, sebenarnya Oma Herdawati harus bersyukur. Ini adalah hal besar yang harus dirayakan. Herdawati bukan lagi seekor burung, tapi seorang manusia. Pinokio saja ingin jadi manusia, apalagi seekor burung yang jelas-jelas punya nyawa, kan?
![]()
Nanti kira-kira anak Opa dan Mbak seperti apa ya? Berkepala burung dan berbadan manusia, atau berkepala manusia tapi berbadan burung?
Hati-hati terjangkit flu burung, Opa! Hati-hati patah hati. Ingat hukum “tabur-tuai”



